ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Melemah di Level Terendah dan Lampui Krisis 1998, Ini Respons Menko Airlangga

Selasa, 7 April 2026 | 19:00 WIB
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara terkait melemah nilai tukar rupiah hingaga level terendah sepanjang sejarah (instagram/airlanggahartarto_official)

KONTEKS.CO.ID - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto merespons nilai tukar rupiah yang melemah pada level terendah sepanjang sejarah, Selasa 7 April 2026.

Menurutnya, tak hanya rupiah saja yang menurun melainkan banyak mata uang negara lain.

"Itu bukan hanya rupiah, berbagai currency lain juga demikian," ucap Airlangga kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa.

Baca Juga: Menhaj Ungkap Tantangan Haji 2026, Ini Pesan Prabowo Soal Harga Avtur Naik 3 Kali Lipat

Lampaui Krisis 1998

Diketahui, nilai tukar rupiah mencatatkan pelemahan tajam hingga menyentuh level Rp17.105 per dolar AS pada perdagangan Selasa 7 April 2026.

Posisi ini menjadi titik terendah sepanjang sejarah pergerakan rupiah, melampaui level krisis moneter 1998 yang sempat berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan, rupiah melemah 70 poin atau sekitar 0,41 persen dibandingkan sesi sebelumnya.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatat nilai tukar di level Rp17.092 per dolar AS.

Sepanjang sesi perdagangan, tekanan terhadap rupiah sempat lebih dalam hingga melemah 75 poin sebelum akhirnya sedikit pulih menjelang penutupan.

Baca Juga: Temukan Kandungan Narkotika, BNN Usul Vape Dilarang Beredar di Indonesia

Pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Ketidakpastian meningkat menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS, Donald Trump, kepada Iran terkait pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.

Gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir memperketat ekspektasi pasokan minyak global dan mendorong kenaikan premi risiko di pasar energi.

Di tengah tekanan terhadap rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia justru menunjukkan penguatan.

Halaman:

Tags

Terkini