KONTEKS.CO.ID - Pemerintah melalui Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah terus mendorong produk lokal menembus pasar global, khususnya China. Upaya ini diperkuat melalui kunjungan kerja Menteri UMKM Maman Abdurrahman dalam forum Indonesia–China SME, Trade and Investment Cooperation Forum 2026.
Dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 6 April 2026, Maman menegaskan bahwa langkah tersebut bertujuan memperkuat rantai pasok global sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM nasional.
“Kepentingan utama kita ke China adalah membangun rantai pasok produk UMKM Indonesia dan memperluas akses pasar di negara itu,” ujar Menteri Maman.
Ia menyebut sejumlah komoditas unggulan Indonesia mendapat perhatian besar dalam forum tersebut, seperti durian, manggis, buah naga, serta sarang burung walet yang saat ini telah memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan pasar China.
Baca Juga: Resmi, Pemerintah Bebaskan Bea Masuk Suku Cadang Pesawat
Menurutnya, tingginya permintaan terhadap produk-produk tersebut menjadi peluang besar bagi UMKM dan petani lokal untuk meningkatkan produksi dan memperluas ekspor.
“Kebutuhan durian di China sangat tinggi, sementara Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen. Ini menjadi peluang untuk mendorong pengusaha UMKM, khususnya sektor musiman seperti petani durian, agar naik kelas,” katanya.
Selain memperluas distribusi, pemerintah juga menekankan pentingnya integrasi digital dalam pengembangan UMKM. Salah satunya melalui platform SAPA UMKM yang akan digunakan untuk memperkuat sistem data dan ekosistem usaha.
“Ke depan, kami akan berfokus pada integrasi data dan digitalisasi melalui SAPA UMKM, sekaligus menyiapkan SDM untuk mempelajari kebijakan pengembangan UMKM di sana,” ujar Maman.
Baca Juga: KPK Periksa 5 Bos Travel, Dalami Dugaan Keuntungan Ilegal Kuota Haji 2023–2024
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah juga membahas sejumlah hambatan ekspor, termasuk tertahannya produk sarang burung walet Indonesia di bea cukai China. Upaya komunikasi dengan otoritas setempat telah dilakukan guna mencari solusi.
“Kami telah berkomunikasi dengan otoritas terkait di China untuk mencari solusi atas kendala tersebut agar arus ekspor dapat kembali lancar,” katanya.