KONTEKS.CO.ID – Keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengawal transisi dan rekonstruksi Gaza dinilai tidak bisa dilihat hanya sebagai langkah diplomasi kemanusiaan.
Peneliti Divisi Ekonomi Politik Institut Marhaenisme 27, Muhammad Iqbal Tarafannur, menilai langkah tersebut berkaitan erat dengan kepentingan ekonomi Indonesia, terutama terkait hubungan dagang dengan Amerika Serikat.
Menurutnya, sejak awal pemerintahan Trump telah mengancam akan memberlakukan tarif hingga 32 persen terhadap produk ekspor Indonesia.
Baca Juga: Paijo Parikesit Soroti Isu BoP dan Perjanjian Dagang Indonesia AS: Awas Ada Gerakan Politik
“Keterlibatan Prabowo dalam Board of Peace tidak bisa dibaca sebagai keterlibatan biasa dalam Dewan Perdamaian,” kata Iqbal dalam tulisannya.
Ia menilai keputusan tersebut berkaitan dengan upaya Indonesia menghindari potensi kerugian ekonomi, jika tidak masuk dalam skema kerja sama yang ditawarkan Amerika Serikat.
Dalam dokumen Fact Sheet Gedung Putih dan laporan Reuters, negara-negara yang bergabung dalam kerangka kerja Shared Prosperity and Security Framework disebut berpotensi memperoleh akses prioritas ke pasar Amerika Serikat.
Baca Juga: Kasus Campak di Indonesia Tembus 8.224, Pakar Ingatkan Penularan Kilat
“Jika Indonesia tidak ikut masuk ke BoP, Indonesia terancam mengalami kerugian devisa yang bisa mencapai USD8-10 miliar (sekitar Rp135,2 triliun),” ujarnya.
Selain keterlibatan dalam BoP, Indonesia juga telah menyepakati Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat sebagai kerangka baru hubungan ekonomi bilateral.
Perjanjian tersebut mencakup liberalisasi tarif, pengurangan hambatan non-tarif, kerja sama ekonomi digital, hingga perlindungan kekayaan intelektual.
Baca Juga: Radar THAAD Rp5 Triliun Hancur, Iran Sukses Bongkar 'Mata' Pertahanan Udara AS, Pertahanan AS Jebol!
Dalam kesepakatan itu, Indonesia bersedia menghapus tarif pada lebih dari 99 persen produk Amerika Serikat.
Produk tersebut mencakup sektor pertanian, kesehatan, makanan laut, teknologi informasi, otomotif hingga bahan kimia.