ekonomi

Strategi Starbucks Bangkitkan Penjualan yang Lesu karena Boikot

Rabu, 30 Juli 2025 | 12:48 WIB
Starbucks melaporkan laba yang lebih rendah di tengah tantangan ekonomi (foto: twitter.com/@parasizceo)

KONTEKS.CO.ID - Starbucks melaporkan kenaikan pendapatan kuartal ketiga yang lebih tinggi dari perkiraan, didorong oleh membaiknya permintaan di China serta investasi di sektor tenaga kerja, operasional gerai, dan pembaruan menu.

Saham perusahaan asal Seattle ini naik 3,8% menjadi USD 96,50 dalam perdagangan setelah jam bursa pada Selasa waktu setempat.

Setelah beberapa kuartal mengalami penurunan penjualan, Starbucks kini tengah menjalankan inisiatif “Back to Starbucks” di bawah kepemimpinan CEO Brian Niccol yang baru menjabat sejak Agustus lalu.

Inisiatif ini merupakan upaya besar untuk me-reset brand, yang mencakup penyederhanaan menu, makanan segar yang dipanggang di tempat, gelas bertuliskan pesan tangan, hingga pelayanan yang lebih cepat.

Baca Juga: Masih Didera Gerakan Boikot, Kini Ratusan Gerai Tutup karena Karyawan Starbucks Mogok Kerja

Dalam pemaparan pasca-laporan keuangan, Niccol menjelaskan bahwa upaya turnaround ini “melampaui ekspektasi.”

Ia menyoroti berbagai perubahan di gerai maupun pengalaman pelanggan. Niccol menyebut ingin mengubah suasana toko menjadi lebih hangat dan bertekstur, termasuk mengembalikan ribuan kursi yang sebelumnya dihilangkan.

Sebanyak 1.000 gerai di Amerika Utara dijadwalkan akan diperbarui hingga akhir 2026.

Starbucks juga sedang menguji desain gerai baru yang lebih hemat biaya bertajuk “coffee house of the future”, yang akan memiliki 32 tempat duduk dan layanan drive-thru, dengan pembukaan pertama dijadwalkan pada 2026.

Baca Juga: Keberhasilan BRI di Forbes Global 2000: Mengalahkan Perusahaan Starbucks dan Uber

Versi kecil dari format ini juga akan segera debut di New York City.

Di sisi tenaga kerja, Niccol berkomitmen menambah investasi di seluruh lebih dari 10.000 gerai Starbucks milik perusahaan di AS.

Perusahaan menyatakan akan menggelontorkan lebih dari setengah miliar dolar AS untuk menambah jam kerja pegawai di tahun mendatang.

Pendapatan bersih Starbucks naik 3,8% menjadi USD 9,46 miliar, melampaui perkiraan analis sebesar USD 9,31 miliar.

Halaman:

Tags

Terkini