Banyak yang yakin dentingannya bisa menembus dunia gaib, memanggil roh leluhur, bahkan makhluk halus. “Kalau mendengar gamelan Sekaten malam-malam, bulu kuduk bisa berdiri,” tutur seorang warga Kauman.
Salah satu kisah yang melegenda adalah suara gamelan yang berhenti mendadak pada 1950-an, diikuti angin kencang dan penampakan sosok hitam besar di sekitar alun-alun. Warga percaya, itu adalah peringatan dari dunia gaib.
Salah satunya adalah perubahan cuaca yang mendadak.
Beberapa orang mengaku pernah merasakan suasana yang aneh, seperti angin yang tiba-tiba berhembus dengan kencang atau langit yang mendadak gelap meski tidak ada tanda hujan.
Mereka percaya, itu tanda roh leluhur hadir ikut merayakan. Selain itu, ada juga bau harum misterius yang muncul tiba-tiba. Warga meyakini itu energi positif dari roh yang melindungi mereka.
Gunungan, Ritual, dan Pesan Kosmos
Prosesi Sekaten selalu mencapai puncaknya lewat rebutan gunungan Grebeg Maulud.
Ribuan warga berebut hasil bumi yang diyakini membawa berkah dan kesuburan. Dalam momen itu, suasana antara sakral dan modern berpadu yaitu di satu sisi orang berdoa, di sisi lain ponsel diangkat tinggi demi konten.
Baca Juga: Demo Besar 5 September 2025 di DPR, Suarakan 17 Plus 8 Tuntutan Rakyat: Selamatkan Indonesia!
Bagi orang Jawa, seluruh rangkaian ini adalah metafora harmoni kosmos: manusia, alam, kerajaan, dan Tuhan menyatu dalam denting gamelan. Sekaten adalah ruang pertemuan dunia nyata dan dunia gaib, sakral dan profan, tradisi dan modernitas.
Sekaten di Era Modern: Tradisi yang Tak Pernah Mati
Sekaten kini beradaptasi. Pasar malamnya diatur dua tahun sekali untuk mengurangi macet dan sampah.
Di sisi lain, Keraton bekerja sama dengan British Library dan Yayasan Lohia untuk mendigitalisasi manuskrip serta notasi gending. Arsip itu kini bisa diakses online, menjadi jembatan antara tradisi dan generasi muda.
PMPS 2025 bahkan menghadirkan workshop membatik, kuliner kreatif, hingga pameran NFT gamelan.
Tradisi kuno bisa masuk ranah digital tanpa kehilangan ruhnya. Sultan HB X pun menegaskan, “Sekaten adalah dialog lintas zaman. Selama gamelan masih ditabuh, jati diri kita tak akan pernah padam.”***