Data tersebut dikirim ke ‘cloud’ sehingga pelatih dapat menganalisis secara langsung.
Di India, seorang pelajar SMA bahkan berhasil membuat prototipe raket berbasis IoT menggunakan Arduino.
Alat itu mampu mengukur kecepatan pukulan dan gerakan, lalu menyajikan data setelah permainan.
Sementara, pada 2024 ilmuwan memperkenalkan konsep yang lebih futuristik, yaitu raket ‘self-powered’ yang menghasilkan daya sendiri lewat material di senar dan grip.
Baca Juga: Lewat LokaModal, Menteri Maman Serukan UMKM Lebih Disiplin Atur Keuangan
Tanpa baterai, raket ini mampu mengidentifikasi lokasi shuttle saat mengenai senar dan posisi genggaman pemain, lalu mengirim data secara nirkabel.
Tantangan Berat
Meski menjanjikan, raket pintar menghadapi sejumlah tantangan.
Penambahan perangkat elektronik bisa membuat bobot raket lebih berat, hal yang sangat sensitif bagi atlet profesional.
Selain itu, harga juga menjadi pertanyaan besar.
Baca Juga: Lewat LokaModal, Menteri Maman Serukan UMKM Lebih Disiplin Atur Keuangan
Apakah pasar bersedia membayar lebih mahal demi fitur tambahan?
Belum lagi soal ketahanan perangkat, apakah sensor mampu bertahan menghadapi benturan keras atau penggunaan intensif?
Pengembangan Raket Pintar
Dengan basis pemain bulutangkis yang sangat besar, Indonesia memiliki peluang besar dalam adopsi maupun pengembangan raket pintar.
Selain bisa membantu latihan atlet, teknologi ini juga membuka kesempatan bagi industri lokal untuk ikut berinovasi, dari produsen raket hingga pengembang sensor dan perangkat lunak.