Bakatnya semakin terlihat saat ia mulai meminjam raket ayahnya untuk bermain melawan pemain yang lebih berpengalaman.
Tanpa pelatih formal, ia belajar sendiri dan mengembangkan tekniknya dengan meniru gerakan kaki dari petinju di Bandung.
Baca Juga: Preview Bayer Leverkusen Vs Bayern Munchen: Menanti Bara Kejutan di BayArena
Teknik ini terbukti efektif dan membantunya memenangkan berbagai turnamen tingkat lokal.
Perjalanan Menuju Juara All England
Karier bulu tangkis Tan Joe Hok mulai menanjak setelah diperkenalkan kepada Lie Tjoe Kong, seorang pemain bulu tangkis profesional dari Bandung.
Ia kemudian bergabung dengan klub Blue White yang menjadi cikal bakal Klub Mutiara Bandung.
Baca Juga: Panduan Lengkap SNPMB 2025: Jadwal, Cara Registrasi, dan Syarat Pendaftaran
Pada tahun 1956, ia meraih gelar juara di Kejuaraan Nasional Bulu Tangkis Surabaya, yang membawanya masuk ke tim nasional Indonesia untuk Piala Thomas 1958 di Singapura.
Tim Indonesia saat itu, yang dikenal sebagai The Magnificent Seven, berhasil menjuarai Piala Thomas.
Baca Juga: Prabowo Turun Tangan soal Pengangkatan CPNS Ditunda, Bakal Keluarkan Instruksi
Setahun setelah sukses di Piala Thomas, Tan Joe Hok bertanding di All England 1959.
Di babak final, ia menghadapi seniornya, Ferry Sonneville, dan berhasil keluar sebagai juara.
Prestasi ini menjadikannya sebagai tunggal putra Indonesia pertama yang menjuarai All England, membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk mendominasi turnamen ini.
Baca Juga: Prabowo Turun Tangan soal Pengangkatan CPNS Ditunda, Bakal Keluarkan Instruksi
Keberhasilan Tan Joe Hok di All England tidak hanya mengukir sejarah, tetapi juga menginspirasi banyak atlet muda Indonesia untuk menapaki jejaknya.