Sebaliknya, AS memberikan tarif nol persen terhadap 1.819 pos produk Indonesia seperti tekstil, elektronik dan komponen pesawat terbang.
Baca Juga: Kedutaan AS di Baghdad Diserang Roket Katyusha, Ketegangan Timur Tengah Kian Memanas
Namun tarif timbal balik untuk impor dari Indonesia tetap berada di kisaran 19 persen.
Fasilitas perdagangan tersebut juga mencakup komoditas unggulan Indonesia seperti minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet hingga komponen elektronik.
Salah satu poin yang menuai sorotan adalah kesediaan Indonesia mengakui AS sebagai yurisdiksi dengan perlindungan data yang memadai, yang memungkinkan pertukaran data pribadi dalam kerja sama ekonomi digital.
Baca Juga: Polda Metro Jaya: 11 Ruas Jalan Masih Terendam Banjir Jakarta
Iqbal menilai berbagai kesepakatan tersebut menunjukkan keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace tidak dapat dilepaskan dari kalkulasi ekonomi dan geopolitik yang lebih luas.
“Langkah tersebut tidak hanya menyangkut kepentingan Palestina, tetapi juga kepentingan ekonomi Indonesia dalam menjaga akses pasar dengan Amerika Serikat,” katanya.***