KONTEKS.CO.ID - Smartcom, sebuah Operator Jaringan Virtual Seluler (Mobile Virtual Network Operator/MVNO) yang berbasis di Singapura, memperluas jangkauannya ke luar negara kota tersebut dengan memasuki pasar Indonesia.
Inisiatif ini bertujuan menghadirkan solusi Push-to-Talk (PTT) yang bersifat ‘mission-critical’ ke pasar yang jauh lebih besar, guna memenuhi kebutuhan komunikasi di berbagai sektor industri utama.
Sebagai bagian dari ekspansinya, Smartcom bekerja sama dengan penyedia layanan telekomunikasi terbesar di Indonesia, Telkomsel, untuk menawarkan bandwidth prioritas selama acara atau periode lalu lintas tinggi.
Selain itu, Smartcom juga menyediakan solusi untuk lingkungan berisiko tinggi, seperti ponsel dan tablet bersertifikat ATEX, yang dirancang khusus bagi perusahaan minyak dan gas (O&G) yang memerlukan komunikasi aman dan andal di area berbahaya.
Ekspansi regional ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Smartcom untuk memperluas basis pelanggannya dan menjangkau pasar baru.
Dengan memasuki pasar Indonesia, Smartcom berharap dapat meningkatkan skala layanannya dan memperkuat kehadiran regionalnya.
Tren Comarch 2025
Dengan basis pelanggan yang lebih luas, perusahaan berupaya mengoptimalkan skala ekonomi untuk memperkaya ragam produk, kemampuan kustomisasi, serta dukungan teknis lokal.
Klien yang memiliki operasi di Singapura dan Indonesia dapat memperoleh manfaat dari solusi PTT lintas negara yang lebih terintegrasi dan efisien, sehingga mendorong koordinasi yang lebih baik.
Hal ini juga menunjukkan fleksibilitas model bisnis Smartcom dalam menyesuaikan diri di berbagai pasar.
Berbeda dengan operator trunking PTT tradisional yang sering menghadapi tantangan regulasi dan keuangan saat berekspansi internasional, teknologi berbasis seluler milik Smartcom menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel untuk menjalankan operasi di tingkat regional.***
Artikel Terkait
Pelanggan Telkomsel Bantu Seribu Orang Mudik Gratis ke Kampung Halaman
Singapura Masih Investor Asing Terbesar Indonesia pada Kuartal I 2025, Total Rp77,6 Triliun