KONTEKS.CO.ID - BYD bangkrut? Salah satu dealer besar mobil listrik merek BYD di Provinsi Shandong, China, dilaporkan tutup.
Media milik pemerintah, Jinan Times, menyebut sedikitnya 20 toko yang dikelola Qiancheng Holdings kini kosong atau sudah ditutup.
Melansir Reuters pada Sabtu, 31 Mei 2025, Qiancheng Holdings, dealer terbesar BYD di provinsi Shandong, dilaporkan telah jatuh ke dalam kesulitan keuangan dan gulung tikar.
Baca Juga: Nonton The Haunted Palace Episode 13 dan 14, Pengungkapan Sejarah dari Arwah Palchukgwi
Setidaknya 20 tokonya di empat kota, termasuk Jinan dan Weifang ditemukan sepi atau tutup.
Lebih dari 1.000 konsumen masih berutang cakupan garansi dan layanan purna jual. Pemilik mobil mengorganisir kelompok perlindungan hak untuk mencari solusi.
Qiancheng, yang pernah memiliki omset tahunan sebesar 3 miliar yuan ($ 416,71 juta) dan mempekerjakan 1.200 orang, menerbitkan surat pada 17 April yang menyalahkan penyesuaian yang telah dilakukan BYD pada kebijakan dealernya karena menempatkan arus kasnya di bawah tekanan yang luar biasa.
Menurut Reuters, toko-toko yang terdampak tersebar di empat kota termasuk Jinan dan Weifang. Para pemilik mobil pun mulai membentuk kelompok perlindungan konsumen untuk menuntut hak mereka.
Qiancheng sebelumnya dikenal sebagai pemain besar dengan omzet tahunan mencapai 3 miliar yuan atau sekitar US$416 juta. Perusahaan itu mempekerjakan sekitar 1.200 orang sebelum diterpa krisis keuangan.
Melansir dari surat terbuka tertanggal 17 April 2025, Qiancheng menyalahkan perubahan kebijakan BYD terhadap jaringan dealernya sebagai pemicu tekanan arus kas. Namun, hingga Kamis, Qiancheng belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Reuters.
Pihak BYD juga tidak memberi pernyataan langsung, namun mengarahkan media ke laporan Cover News yang memuat pernyataan dari perwakilan hubungan masyarakat BYD.
Dalam laporan itu, BYD menuding ekspansi agresif Qiancheng sebagai penyebab utama krisis, bukan perubahan kebijakan perusahaan.