bola

Ketum MUI Ingatkan Bahaya Perpecahan di Tengah Krisis Global: Perbedaan Harus Jadi Kekuatan, Bukan Konflik

Kamis, 16 April 2026 | 06:12 WIB
Ketum MUI, KH. Anwar Iskandar ingatkan pentingnya persatuan di tengah krisis global (Footo: dok. MUI)

KONTEKS.CO.ID - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Anwar Iskandar, menegaskan bahwa persatuan, keadilan, dan perdamaian menjadi fondasi utama yang tidak bisa ditawar dalam kehidupan masyarakat modern.

Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya tantangan global yang dinilai berpotensi memecah belah.

Dalam pandangannya, ketiga nilai tersebut tidak hanya penting bagi kelompok tertentu, tetapi berlaku untuk seluruh umat manusia tanpa memandang latar belakang.

Ia menekankan bahwa ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan antarsesama manusia.

Baca Juga: MUI Kecam Agresi AS-Israel di Hadapan Dubes Iran: Hentikan Kezaliman Tanggung Jawab Semua Negara

“Persatuan, keadilan, dan perdamaian adalah kebutuhan hidup kita semua. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa ketiganya,” ujarnya dalam acara Silaturahim Nasional Ormas Islam dan Halal Bihalal 1447 Hijriyah di Jakarta, seperti dikutip pada Kamis, 16 April 2026.

Perbedaan Bukan Sumber Konflik

Kiai Anwar mengingatkan bahwa keberagaman yang ada di masyarakat seharusnya menjadi kekuatan, bukan pemicu perpecahan.

Menurutnya, perbedaan justru harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk saling memahami dan membangun kehidupan yang harmonis.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas sebagai syarat utama keberhasilan pembangunan.

Dalam konteks ini, peran tokoh masyarakat dan pemimpin umat menjadi sangat strategis.

“Kita harus hati-hati dalam bersikap dan bertindak, karena apa yang kita lakukan dapat berdampak luas. Stabilitas adalah kunci agar pembangunan dapat berjalan dengan baik,” katanya.

Pertumbuhan Ormas Islam Kian Pesat

Pada kesempatan yang sama, ia mengungkapkan perkembangan signifikan organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia. Dari jumlah awal yang terbatas, kini telah berkembang pesat.

Lebih dari 80 organisasi disebut aktif berkontribusi bagi masyarakat, meningkat dari hanya sekitar 10 ormas pendiri di masa awal.

Fenomena ini menunjukkan meningkatnya partisipasi sosial keagamaan dalam kehidupan berbangsa.

Nilai Ulama Jadi Fondasi Kehidupan Sosial

Kiai Anwar menegaskan pentingnya nilai-nilai yang diwariskan para ulama dalam menjaga persatuan.

Nilai tersebut meliputi sikap saling menyayangi, tolong-menolong, musyawarah, saling memaafkan, dan saling menasihati.

Menurutnya, nilai-nilai ini bukan sekadar ajaran moral, tetapi menjadi fondasi nyata dalam menjaga keharmonisan masyarakat.

Soroti Solidaritas untuk Palestina

Selain isu dalam negeri, ia juga menyinggung pentingnya solidaritas global, khususnya terhadap rakyat Palestina.

Menurutnya, penderitaan yang dialami rakyat Palestina tidak bisa dipisahkan dari rasa kemanusiaan masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Israel Sahkan Hukuman Mati bagi Warga Palestina Termasuk Anak-anak, MUI Serukan Perlawanan Dunia

“Solidaritas kita tidak akan pernah padam. Apa yang dirasakan saudara-saudara kita di Palestina juga kita rasakan,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Kiai Anwar mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap optimistis dan menjaga kebersamaan di tengah dinamika global.

“Bangsa ini akan kuat jika kita menjaga nilai-nilai kebersamaan, keadilan, dan perdamaian,” katanya memungkasi.***

Tags

Terkini