KONTEKS.CO.ID - Maskapai penerbangan Korea Selatan (Korsel) akan memberlakukan biaya tambahan bahan bakar tertinggi untuk tiket yang diterbitkan pada Mei 2026.
Kebijakan ini dipicu lonjakan harga minyak global yang disebut berkaitan dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Biaya Naik ke Level Tertinggi
Melansir Yonhap, Jumat, 17 April 2026, besaran surcharge Mei ditentukan berdasarkan rata-rata harga Mean of Platts Singapore (MOPS), yang tercatat mencapai USD214,71 per barel dalam periode 16 Maret hingga 15 April.
Baca Juga: Menhub Spill Harga Tiket Pesawat Bisa Turun dalam 2 Bulan, Asal Penuhi Syarat Ini
Angka itu menempatkan biaya tambahan bahan bakar pada kategori Level 33, yakni level tertinggi dalam sistem penetapan tarif Korea Selatan.
Sistem ini digunakan pemerintah untuk menyesuaikan biaya tambahan setiap bulan berdasarkan harga bahan bakar dan jarak penerbangan.
Lonjakan Terbesar Sejak 2016
Kenaikan untuk Mei jauh melampaui April yang masih berada di Level 18. Ini disebut sebagai lonjakan bulanan paling tajam sejak sistem tarif tersebut mulai diterapkan pada 2016.
Selain itu, Mei menjadi pertama kalinya kategori tertinggi diberlakukan sejak sistem itu berjalan.
Dengan kebijakan ini, tiket yang diterbitkan selama Mei otomatis dikenakan surcharge baru.
Korean Air Naikkan Tarif Signifikan
Korean Air menyatakan biaya tambahan bahan bakar untuk penerbangan internasional satu arah akan naik menjadi antara 75.000 won atau sekitar USD50,89 hingga USD381,8.
Sebagai perbandingan, pada April tarif surcharge masih berada di kisaran USD28,4 hingga USD205,1.
Sedangkan untuk rute jarak jauh seperti New York, Paris, dan London, biaya tambahan melonjak 86 persen menjadi USD381,8.
Maskapai Lain Segera Menyusul
Asiana Airlines serta maskapai berbiaya rendah seperti Jeju Air diperkirakan segera mengumumkan tarif surcharge mereka dalam beberapa hari ke depan.
Baca Juga: Tekanan Udara Bermasalah, Korean Air Menukik Tajam Selama 15 Menit: Banyak Penumpang Terluka
Pelaku industri menilai maskapai lain kemungkinan mengikuti tren serupa karena tekanan biaya operasional yang sama.
Sejumlah pejabat industri memperkirakan permintaan tiket bisa meningkat dalam waktu dekat.
Banyak calon penumpang diprediksi akan memesan tiket lebih cepat sebelum biaya tambahan baru mulai berlaku.
Jika tren harga minyak terus naik, tekanan terhadap tarif penerbangan internasional diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.***